CATATAN!

Satire boleh tajam. Fakta tetap harus jelas.

EDISI 31.08.2026
SATIRE LINGKUNGAN

Kembali Muda, Jangan Kembali Tuli

Di luar orang sibuk padamkan api, di dalam sibuk padamkan umur.

10 PANEL GULIR UNTUK MEMBACA ↓
Halaman 1: Tamu berkostum seragam SMA berswafoto di dalam resto mewah bertema "kembali muda", sementara jendela di belakang memperlihatkan langit oranye, asap tebal, dan regu pemadam kebakaran hutan bekerja.
01Banjarmasin, 27 Agustus 2026. Pesta "Ulang Tahun - Tema Kembali Muda" di resto tepi sungai; di luar, kota berkabut asap dan BPBD memadamkan api. Kalsel siaga darurat karhutla sejak 6 Juli 2026.
Halaman 2: Kartu undangan pesta bertema seragam SMA; seorang relawan karhutla menyodorkan masker kepada tamu yang menolak karena sedang bernostalgia.
02Undangan: "Tema: Kembali Muda. Dress code: Seragam SMA." "Dasi abu-abu ya, biar cocok sama asap." Relawan menawarkan masker: "Nanti saja, kami lagi nostalgia."
Halaman 3: Para tamu sibuk berfoto dengan latar asap yang terlihat dari jendela, dikontraskan dengan petugas pemadam di lapangan; data BPBD Kalsel ditampilkan.
03"Selfie dulu, angle asapnya masuk nggak?" Di luar petugas memadamkan api; di dalam tamu mencari pencahayaan. BPBD Kalsel 27 Agustus 2026: 2.019 kejadian karhutla, 9.943,26 hektare terdampak.
Halaman 4: Dua daftar bersanding - hidangan perayaan di resto versus kebutuhan posko darurat karhutla - dengan pengunjung resto di satu sisi dan tenda pengungsian di sisi lain.
04Menu resto (kue, mocktail, snack premium, tawa riang) vs menu darurat (masker, air minum, pemadaman, logistik, kesehatan, keletihan). "Pesta bisa menunggu. Nyawa tidak bisa diulang."
Halaman 5: Seorang anak muda berdebat dengan pejabat berbatik di dalam resto soal etika menggelar pesta saat warga sesak napas karena asap.
05"Ini acara pribadi... bukan urusan publik." "Kalau jabatannya publik, nuraninya jangan privat." "Yang bikin muak itu timing-nya. Saat rakyat berjuang bernapas, pesta mewah itu bukan pribadi... itu pilihan."
Halaman 6: Layar ponsel penuh komentar warganet yang mengkritik pesta pejabat di tengah bencana asap.
06Fotonya viral. "Yang viral bukan ulang tahunnya, tapi putusnya rasa malu." Kolom komentar: "Asap nyata, empati maya." "Rakyat pakai masker, pejabat pakai nostalgia." "Kue manis, udara pahit."
Halaman 7: Warga di permukiman terbatuk dan mengeluh perih mata karena asap, dikontraskan dengan adegan meniup lilin ulang tahun di dalam resto.
07Warga: "Mataku perih, Bu." "Sesaknya nggak hilang-hilang." "Asapnya masuk paru, Nduk." Di dalam: "Ayo tiup lilinnya!" Jaraknya dekat, rasanya jauh.
Halaman 8: Tim klarifikasi menegaskan pesta tidak memakai uang negara; lawan bicara menjawab bahwa persoalannya adalah etika dan kepekaan, bukan sumber dana.
08"Tidak pakai uang negara. Itu acara keluarga. Jangan dibesar-besarkan." "Bukan soal dibayar siapa. Etikanya yang jadi soal. Empati itu bukan anggaran." "Pemimpin itu contoh, bukan cuma pengatur acara."
Halaman 9: Album foto pesta bertema masa muda, disandingkan dengan gambar asap yang masih mengepul di luar; narasi soal rasa malu sebagai kompas.
09"Seragam sekolah bisa dipakai lagi. Kepekaan kok malah dilepas?" "Yang perlu kembali muda itu mungkin ingatan pada rasa malu. Malu itu kompas."
Halaman 10: Anak muda berbicara di depan para pejabat dengan latar kota berasap; fakta resmi karhutla Kalsel ditampilkan, ditutup dengan pesan "kembali muda boleh, tapi jangan sampai kembali tuli".
10Penutup: "Silakan bersenang-senang. Tapi kalau rakyat lagi sesak karena asap, jangan minta pesta kalian disebut wajar." Pejabat boleh nostalgia. Empati jangan pensiun dulu.
DI BALIK PANEL

"Ini cuma syukuran kecil." — "Kecil buat Bapak, besar buat rasa muak kami."

Di Banjarmasin, sebuah resto memasang tema pesta "Kembali Muda" lengkap dengan dress code seragam SMA. Di luar jendela, langit oranye: Kalimantan Selatan berstatus siaga darurat karhutla, ribuan titik api, hampir sepuluh ribu hektare terdampak. "Di luar orang sibuk padamkan api, di dalam sibuk padamkan umur."

Ketika sorotan datang, jawabannya khas: "Ini acara pribadi." Komik ini menjawab dengan satu kalimat: kalau jabatannya publik, nuraninya jangan privat. Yang bikin muak bukan kuenya — tapi timing-nya.

Penutupnya tidak melarang orang bersenang-senang. Ia cuma minta: saat rakyat sesak karena asap, jangan minta pesta itu disebut wajar. Pejabat boleh nostalgia; empati jangan pensiun dulu.

FAKTA / REFERENSI

Sumber & referensi

Bagian ini memuat rujukan faktual yang menjadi konteks karya. Satire dan opini tetap merupakan interpretasi kreatif redaksi.

  1. 01

    Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan

    Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)

    Portal resmi data dan penanganan bencana, termasuk kebakaran hutan dan lahan serta dampak asap.
  2. 02

    Sistem Pemantauan Titik Panas (SiPongi)

    Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

    Sistem resmi pemantauan titik panas dan kebakaran hutan/lahan berbasis satelit.
  3. 03

    Informasi Kualitas Udara dan Peringatan Dini

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)

    Rujukan pemantauan kualitas udara, sebaran asap, dan prakiraan cuaca terkait karhutla.
RUANG PEMBACA

0 Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menanggapi.

TINGGALKAN KOMENTARKomentar tampil setelah dimoderasi.
BONGKAR ARSIP

Tekan Enter untuk mencari · Esc untuk tutup